Rabu, 28 Desember 2016

Berlalu Pasca Tsunami

12 tahun yang lalu tepatnya 26 Desember 2004, bencana besar terjadi di Aceh dan sepanjang pesisirnya yang berbatasan dengan Samudra Hindia.  Gempa bumi yang berskala 9,1-9,3 SR selama 8,3 sampai 10 menit di hari Minggu pagi itu menimbulkan gelombang Tsunami yang puncaknya mencapai 30 meter (98ft) meluluhlantakkan Aceh dihampir seluruh penjuru kota, kabupaten, desa-desa yang dilalui tsunami. Ungkapan dukacita, simpati, empati tertuju pada Aceh. Seluruh mata dunia berpaling ke Aceh. Jutaan tangis dan doa berkumandang untuk Aceh hingga berbulan-bulan lamanya.

Kakakku tengah bertugas di Banda Aceh, emak ikut kakak di sana. Beliau sedang sakit. Aku mengetahui tsunami dari saudara yang tinggal di Medan. Segera kutelepon kakak, namun diluar jangkauan. Paman terbang ke Aceh untuk memastikan kondisi kakak dan emak. Tiba di Cengkareng, semua penerbangan komersial ke Aceh penuh, yang  diutamakan penerbangan untuk bantuan kemanusiaan dan medis. Dua hari terkatung-katung dibandara akhirnya paman balik ke Palembang.

Tamu Jelang Maghrib

Aku terus  menghubungi nomor ponsel kakak, istrinya ataupun anaknya, tak satupun tersambung.  Kala  itu jelang magrib, hari ketiga pasca tsunami tanggal 28 Desember 2004, suasana sepi dan syahdu, hujan gemericik mengharmoni kesyahduan itu. Aku keluar menutup pagar,  kulihat mobil para tetangga sudah parkir di car port masing-masing pertanda para suami sudah pulang namun suamiku belum tiba di rumah. Setelah menutup pagar, aku masuk melalui  pintu samping, masuk kamar untuk  shalat magrib.

Tiba-tiba suara pintu depan di ketuk. Bergegas aku ke ruang tamu dan membukanya. Seorang perempuan sepuh, bertubuh sedang, mengenakan kebaya kutu baru dan samping (baca.kain) duduk di pagar teras rumah. Aku tak mengenalnya, ada sedikit kemiripan dengan wajah emak. Suasana sunyi meningkatkan hormon hororku. Aku merinding, ada perasaan takut. Sebelum aku bertanya, si nenek memperkenalkan diri menyatakan ingin meminjam uang sebesar  Rp. 2.000.000,-- untuk biaya pengobatan.  Nenek bercerita bahwa dia mengidap kanker, butuh biaya untuk kemoterapi, dia menyibak sampingnya untuk memperlihatkan penyakitnya. Kaget dan takutku kian kuat, koq baru kenal dan berjumpa dengan gamblang  bercerita tentang penyakit serta ingin pinjam uang, sungguh keterusterangan yang langka!!!.

Aku mencoba menguasai diri agar tidak  menimbulkan ketidaknyamanan pada diri nenek. Dengan lembut kutegaskan padanya bahwa aku tidak mempunyai uang sebesar itu, harus minta ke suami  dahulu sedangkan beliau belum pulang. Kuminta nenek menunggu sebentar, aku ke kamar  mengambil uang seadanya untuk kuberikan padanya. Saat aku keluar, si nenek sudah tidak ada. Ku cari di jalan mengira-ngira arah perginya. Kutelusuri gang perumahan sebelah juga tidak terlihat sosok si nenek.

Aku panik, penasaran bercampur takut. Secara matematis bisa dihitung langkah nenek dalam kondisi itu. Andai berlaripun dia masih di dalam kompleks.  Akhirnya aku kembali ke rumah dengan perasaan menyesal, cemas,  takut bercampur satu. Aku menerka-nerka siapakah nenek tadi,  manusia, malaikat, setan atau jin??? Saat dalam kebingungan suamiku pulang. Setelah beliau mandi dan duduk santai  kuceritakan semua peristiwa magrib ini. Suami tersenyum menenangkanku “Mungkin si nenek memang sakit dan perlu uang  atau  mungkin juga dia ingin menipu seperti kebanyakan pengemis-pengemis tua yang berpura-pura susah agar dikasihani” ujar suami. Aku hanya diam, tidak mengiyakan maupun mengingkari. 

Emak Meninggal

Hari keempat pasca tsunami  ponselku berdering. Terdengar suara kakak yang berat dengan duka yang dalam, mengatakan  " alhamdulillah kami bertiga selamat, emak sudah meninggal". Telepon terputus. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Aku mencoba menghubungi kembali namun diluar jangkauan. Berita yang kuterima cukup mengagetkan walau hati kecilku menyadari kabar terburuk akan hadir dalam peristiwa ini.

Kukabarkan duka ini kepada keluarga terdekat, pengurus mesjid dan mengadakan tahlilan setiap malam hingga tiga hari ke depan. Tetangga dan kerabat bertandang ke rumah turut berbelasungkawa, menguatkanku. Aku ikhlas, sudah takdir emak menemui Sang Khalik dengan cara ini. Aku terus berusaha menghubungi kakak. Jhon, saudara yang tinggal di Medan segera ke Aceh begitu kukabarkan berita emak.

Seperti juga Paman saat di bandara Cengkareng Jakarta , bandara Polonia Medan (sekarang Kualanamu) juga penuh sesak dengan para penumpang yang akan ke Aceh. Banyak yang sudah menunggu sejak hari pertama tsunami belum jua mendapatkan penerbangan. Jhon sungguh beruntung, mendekati tengah malam dia mendapat tumpangan Hercules TNI AD yang akan mengirim bantuan makanan. Mereka berdiri berpegangan dalam Hercules atau duduk diantara bahan-bahan bantuan.

Lewat tengah malam Jhon tiba di bandara Sultan Iskandar Muda. Dalam kegelapan, dia berjalan keluar bandar. Mendekati fajar belum juga bertemu kota atau manusia. Jelang pagi  tampaklah situasi yang sesungguhnya. Aceh rata dengan tanah, semua mati, semua lenyap. Rupanya semalam yang dia injak mayat bukan tanah, dia berjalan di atas tumpukan mayat!!. Subhanallah...sungguh kengerian yang dahsyat. Menyadari kondisi ini, Jhon langsung menghubungiku, melarangku ke Aceh hingga situasi pulih.

Cerita Kakak

Di hari kelima pasca tsunami kakak menelpon kembali. Suaranya sudah tenang. Dia dan keluarga sudah kembali ke rumah, sebagian listrik sudah normal. Kakak cerita panjang kejadian tsunami, awalnya mereka tidak percaya karena rumahnya jauh dari pantai tapi setelah melihat orang berlari, segera dia membopong emak yang sedang diinfus masuk ke mobil. Mereka berempat berpacu dengan air hingga sampai di sebuah perbukitan. Rupanya pengungsi sudah banyak.

Tiga hari di pengungsian, tanpa makan dan minum, tidur beralas tanah beratap langit. Emak yang sedang sakit tidur dalam mobil, tidak membawa persediaan infus. Hari ketiga pasca tsunami, jelang magrib emak memanggil kakak, ndut, jangan tinggalkan emak ya, bisik emak ke kekak. Kakak mengiyakan "aku jagain emak". Emak diam seperti tidur, di kejauhan terdengar azan magrib. Kakak melihat kondisi emak sudah tidak memungkinkan untuk bertahan. Kakak menuntun emak mengucapkan syahadat, emak menghembuskan nafas terakhir disamping kakak. Suara kakak tercekat, sedikit terisak dan diam. Aku terharu mendengar ceritanya.
Keesokan paginya air mulai surut. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Semua jalan yang dilalui masih berair. Orang-orang masih sibuk mencari kerabat dan keluarganya yang hilang. Jangan berharap mendapat pertolongan saat itu, semua nyaris terkena tsunami. Jika ada yang menemukan mayat keluarganya, mereka mengubur sendiri dan berebut lahan kering karena sebagian tanah basah,  sebagian lagi terendam. Perebutan lahan kuburan ini menambah kesulitan baru.

Kakak yang sudah kembali ke rumah, kebingungan akan mengubur mayat emak karena ketiadaan lahan kering dan tukang gali kubur. Tidak jauh dari rumah kakak ada lahan kosong  milik salah satu warga. Melihat situasi ini, pemilik tanah tersebut mewakafkan tanah itu untuk tempat pemakaman. Beramai-ramai orang memakamkan keluarganya disana dengan menggali kubur sendiri. Beruntung kakak dibantu pak RT dan tetangga yang sudah kembali dari pengungsian.  Menggali dengan peralatan seadanya. Tanah basah dan berair memudahkan dan sekaligus menyulitkan penggalian. Mudah karena tanahnya lunak, sulit karena selalu tertutup air. Jelang sore penguburan selesai.

Kelekatan Emosi

Setelah kakak menelpon, aku terkenang peristiwa nenek jelang magrib. Peristiwa itu bertepatan dengan kepergian emak. Mungkinkah nenek adalah arwah emak yang ingin pamit? Penyakit yang diderita nenek sama dengan penyakit emak. Postur tubuh dan wajahnya banyak kemiripan. Selama ini aku yang merawat emak.  Kelekatan kami sangat kuat. Emak satu-satunya yang kumiliki sejak ayah meninggal saat aku berusia 6 bulan. Karena harus ikut suami mutasi ke Bandung, emak memilih ikut kakak ke Banda Aceh. 3 bulan di Bandung, aku tawarkan emak tinggal bersamaku. Emak setuju dan Desember mendatang, saat libur sekolah akan kujemput. Namun rencana ini tak pernah terjadi, emak pergi selamanya di bulan Desember.
Ketika suami pulang kantor kuceritakan isi telpon kakak dan kepergian emak. Suami bercerita bahwa malam itu dia juga bermimpi emak memberikan sampan padanya. Dalam hatinya berkata emak akan pergi tapi suami sengaja tidak menceritakan mimpinya karena khawatir aku gak nyaman.


Kini kusadari, kelekatan psikologis seorang ibu dan anak, walaupun terpisah ribuan mil, ikatan emosional otomatis terhubung saat salah satunya akan menghadap sang Pencipta. Memang dalam agama tidak ada pengakuan mengenai hal ini. Tapi aku yakin, banyak cara Tuhan untuk memberitahukan kepada manusia tanda-tanda kepergian orang terkasih. Aku yakin nenek adalah jelmaan emak yang ingin pamit dari hidupku dan meyakinkanku bahwa emak sangat menyayangiku hingga akhir tarikan nafasnya. Selamat jalan mak. Cinta dan doaku untukmu tak kan pernah terhenti hingga kita berjumpa kembali di haribaan Ilahi.

Artikel ini pernah dimuat di kompasiana.com tanggal 28 Desember 2015. Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/julindajacob70/kenangan-tsunami-aceh_5684 f9231a7b614f07052ed2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar