Rabu, 04 Desember 2019


Leebong, Pulau Menawan di Pesisir Barat Belitung

Pulau Leebong

Tetiba Yunita, sahabat karibku menelpon, mengajak wisata ke Belitung. Aku tertarik ikut karena kutahu khunyuk (panggilan akrabku) traveller cantik, tripnya menantang, anti mainstream dan foto fotonya keren. Aku ingin mencoba aura petualangan dengannya tetapi ragu apakah suami akan mengiijinkan sebab minggu depan akan ke Bangkok. Waktunya mepet, hanya berselang 2 minggu sudah liburan lagi. Tak berani berjanji, kupending dulu ajakannya, fokus persiapan ke Bangkok. 

Sepulang dari Bangkok kakiku bengkak karena banyak berjalan, ngitar pasar apung, mall dan kuil di Bangkok. Belum berani ijin ke suami dalam kondisi seperti ini. Untuk sementara kupendam hasrat ke Belitung namun jari jemari tetap lincah memantau harga tiket di Traveloka, haha… 

Ketika ada kesempatan santai berdua suami, kaki sudah sembuh, kuselipkan ajakan khunyuk, tak disangka, suami mengijinkan, Alhamdulillah, kucium suami bertubi tubi. Aku segera hunting tiket mencari keberangkatan yang sama dengan khunyuk. Karena waktu itu masih ragu, khunyuk sudah lebih dahulu pesan tiket untuk antisipasi harga. Bersyukur aku masih mendapatkan penerbangan yang sama dengan khunyuk. Tiba waktu yang telah disepakati, kami bertemu di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Aku berangkat dari Bandung sehari sebelumnya, menginap semalam di Jakarta sekalian menengok anak-anak. Esok paginya meluncur ke Bandara. Khunyuk sudah lebih dulu tiba, menunggu di keberangkatan, tak lama kemudian Leni, teman khunyuk tiba, kami berkenalan, menuju ruang bandara untuk check in and boarding

Pulau Belitung
 
Bandara H.AS.Hanandjoeddin

Tiba di Belitung sekira pukul 11.00 siang, pemandu sudah menunggu. Kami foto-foto sebentar di bandara, mengambil bagasi kemudian keluar. Bandara Belitung, H.AS. Hanandjoeddin, seperti umumnya bandara kota kecil di Indonesia, tidak ada yang istimewa. Namun demikian semua maskapai ada. Dari Garuda, Sriwijaya, Citilink, Batik, Lion, NAM bahkan Air Asia pun terbang ke Belitung setiap hari. Wisata alam Belitung sedang menggeliat setelah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata di filmkan, Belitung menjadi terkenal. Pulau Lengkuas, bebatuan menjulang, mercusuar, tambang timah, tambang kaolin, SD Laskar Pelangi membuat penonton penasaran. 

Mie Belitung Nyonya Atep
Mobil meluncur ke tengah kota membawa kami makan siang di Mie Belitung Nyonya Atep, salah satu warung mie terkenal di Belitung. Beberapa foto selebritis dan orang terkenal dipajang di dindingnya. Mie Belitung mirip mie celor Palembang, mie kuning dengan kuah kaldu kental, potongan kentang rebus, udang, irisan timun ditabur emping disajikan beralas daun simpur, vegetasi khas Belitung. Rasanya gurih. Banyak kemiripan kuliner Belitung dengan Palembang karena dulu Provinsi Bangka Belitung (Babel) merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan sebelum memekarkan diri dan menjadi provinsi ke 31 pada tahun 2000. 

Mencicipi Mie Belitung
Setelah makan siang, kami berkeliling di Belitung, mencoba kopi Kong Djie, mampir ke Tanjung Pendam dan akhirnya menuju Hotel Santika untuk beristirahat.Khunyuk sudah menyusun acara open trip kami. Hari pertama berkeliling dalam kota kabupaten Tanjung Pandan. Hari kedua ke Pulau Burung, Pulau Lengkuas dan Pulau Kelayang. Hari ketiga One day trip Pulau Leebong. Hari keempat ke Manggar, area laskar pelangi. Trip hari ke 1 dan ke 2 sdh kami lewatkan dan sudah sangat umum cerita tentang Pulau lengkuas, pulau mercusuar yang sudah tenar sebelumnya. Saya akan berbagi cerita di Pulau Leebong, kemon gaess......

3 ceret susun paku, ciri khas warung kopi di Belitung
Merasakan sensasi kopi Kongdjie
Kongdjie Mantap
Tanjung Pendam



Kolam renang Santika Hotel

Welcome To Leebong Island 

Plang Selamat Datang
Hari ke 3 sebagaimana yang telah di program, kami mengikuti open trip ke Leebong, pulau menawan yang sedang hits saat ini. Pulau Leebong merupakan salah satu gugusan pulau cantik terletak di pantai barat pulau Belitung. Luasnya lebih kurang 37 Ha berjarak hanya 3 KM dari pesisir Belitung. Baru diresmikan bulan april 2016 dikelola pihak swasta. Disekitar pulau Leebong terdapat pulau pulau kecil lain yang jaraknya tidak terlalu jauh seperti Pulau Rengit, Pulau Mentarak, Pulau Ruk, Pulau Betangan, Pulau Baguk dan Pulau Mengkokong. Pulau pulau ini dikelilingi hutan Mangrove sehingga hampir tidak bisa disinggahi.


Pulau Leebong lebih dekat dicapai melalui pelabuhan TanjungRuu yang terletak di desa Pegantungan, Kecamatan Badau. Kami berangkat pukul 10.00 pagi dari dermaga TanjungRuu. Saat kami tiba, pelabuhan dalam proses pembangunan. Akses ke perahu motor tidak begitu mulus, sebagian masih jalan setapak. Disana sini gundukan tanah, kayu bongkaran dan besi tua. Tidak terlihat pekerja bangunan. Fasilitas umum masih minim, belum ada toilet atau ruang tunggu. 

Menyisir hutan mangrove
 Kami berlima langsung ke perahu motor yang telah menunggu. Laut tenang ketika kami berlayar. Lebih kurang 15 menit kami tiba di pulau Pasir di tengah laut. Pulau Pasir timbul saat laut surut. Biasanya dari pagi hingga petang hari. Saat air pasang Pulau Pasir tidak tampak di permukaan. Ketika kami tiba, sudah ada satu rombongan yang lebih dulu mendarat. Bermain air, berenang dan main ayunan serta fofotoan, aktifitas kami di pulau Pasir, sungguh menyenangkan bermain di tengah laut. Tiba tiba cuaca mendung, langit gelap, gerimis mengundang kemudian hujan deras. Dari atas, dari bawah air berlimpah. Suara petir dan kilat bikin kami ketakutan. Kami berlarian di atas pasir menuju perahu. Kaki sampai terjeblos jeblos..hahaha…takut tersambar petir dan air pasang. Dalam keadaan basah kuyup kami naik perahu motor, kedinginan, perut terasa lapar.

Pulau Pasir
Awan hitam menggayut
Berhujan hujan
Kemudian kami melanjutkan perjalanan, menyusuri laut, melewati hutan mangrove dan sampailah di pulau Leebong yang cantik dan menawan. Jarak pulau Pasir dan Pulau Leebong sangat dekat, lebih kurang 10 menit pelayaran. Matahari tepat di atas kepala saat perahu bersandar, waktunya makan siang. Kami disambut beberapa guide di dermaga, membantu keluar dari perahu dan menyambut dengan sapaan ramah “ selamat datang di pulau Leebong “ 


Aktifitas pertama tiba tentunya mencari spot cantik. Rumah kayu, ikon pulau Leebong menyambut kami di pintu dermaga, sasaran pertama selfi. Setelah puas kami diantar ke restoran tanpa dinding dengan jajaran bangku dan meja panjang yang telah direserve. Washtafel terletak disisi kanan, mushola, toilet dan kamar mandi berada di belakang. Mushollanya bersih dan rapi. Tempat wudhunya dari batu batu kerikil. Kami hanya dikenakan biaya Rp. 450.000/orang sudah termasuk makan siang dan bebas menggunakan fasilitas permainan yang tersedia diantaranya kayak, paddleboard, sepeda, snorkeling, banana boat. Kecuali wind surfing ada tambahan biaya Rp. 250.000,- untuk durasi 15 menit. 
Rumah Kayu
Dermaga Leebong
Rumah Pohon
Tak lama menunggu satu persatu hidangan siap dimeja dalam keadaan panas. Menunya seputar laut. Ada cumi goreng tepung, ikan bakar, ikan pepes, ayam goreng, sup bakso ikan, oseng kangkung, sambal terasi dan sambal kecap. Kami makan dengan lahap dan nikmat, memang perut sudah kelaparan sejak bermain dan kehujanan di Pulau Pasir. Selesai makan, semilir angin dan hembusan ombak membuat ngantuk. Namun sayang melewatkan hari disini. Ditemani seorang pemandu yang bernama Black asal Garut, kami menyisir hutan dan pulau, ngaso sejenak di rumah pohon, rumah yg menyatu dengan pohon. Rumah pohon merupakan salah satu bentuk penginapan di Pulau Leebong selain Villa, Cottage dan Camp/Barak. Kita bebas memilih tergantung kebutuhan, kantong dan jumlah personil.
Ketika sedang ngobrol santai, tiba tiba Novi berteriak, rupanya ada ular daun jatuh dari pohon persis di depannya. Ular tersebut cukup besar seperti ular sendok. Black menyingkirkan ular tersebut, kemudian kami melanjutkan perjalanan. Baru beberapa langkah terrdengar teriakan novi kembali, rupanya di depannya melintas ular daun lagi, Novi ketakutan berlari ke suaminya. Dua kali dia bertemu ular, sementara kami aman aman saja, mungkin dikira ratunya..hahaha…Kami bertanya pada Black, dengan adanya ular tersebut, apakah aman tidur ditenda ? “Walau tidak ada yang menginap, setiap sore dilakukan pengasapan di barak dan rumah pohon. Tak ada satu celah pun yang bisa dimasuki binatang atau serangga seperti nyamuk, semua tertutup rapat” ujar Black. Kekhawatiran kami terjawabkan, semua aman dan nyaman. 

Jalan setapak ke Pantai Chikas, sejuk rindang
Kami terus berjalan melewati hutan rindang berpasir putih. Sesekali ada hewan liar menampakkan diri tetapi tidak buas. Cukup jauh kami berjalan hingga tiba di pantai Chikas, pantai pasir putih yang menjorok ke laut di bagian belakang Pulau Leebong. Ada gazebo warna warni untuk bersantai di laut. Disisi kiri terdapat hutan mangrove. Ada Pirates café tempat pengunjung ngupi lengkap dengan kursi akar pohon unik dan taman yang teduh. Tiket one day trip tidak termasuk makan minum di café. 

Penunjuk Arah

Pirates Cafe




Nemu Balita Bintang Laut

Berlibur di Leebong serasa di pulau pribadi. Sunyi, menentramkan, cantik dan nyaman. Tidak banyak manusia lalu lalang seperti di Pulau Lengkuas atau Pulau Burung. Tiap rombongan pelancong didampingi guide yang membantu foto dan mengenalkan pulau secara keseluruhan.







Sepanjang siang kami bermain di Pantai Chikas hingga matahari sedikit ke barat. Kulit gosong dan pekat tak kami hirau. Berenang di laut yang tenang dan jernih. Tiduran di pasir putih yang lembut dan bersih. Setelah puas kami pindah ke pantai bagian depan, dekat dermaga. Main ayunan, kayak dan paddle board. Berlomba mendayung paddle ke tengah laut, kemudian berbalik begitu seterusnya sambil tertawa terbahak bahak melihat Khunyuk mendayung paddle yang ditumpangi Leni terbalik. Laksana nelayan membawa dugong, ikan paus besar hahaha….. Tak sulit mengayuh paddle. Yang penting seimbang, bergantian kiri dan kanan. Jika mau ke kiri kita dayung ke kanan, berlawanan dan sebaliknya.


Paddleboard, perlu keseimbangan untuk naik
Lomba Paddle, seruu !!

Matahari kian tergelincir ke barat. Kami bersegera ke daratan, membasuh diri dan berkemas kembali ke Tanjung Pandan. Menyempatkan diri foto di dermaga sebelum naik perahu motor. Cuaca tenang, langit biru bersih terang. Banyak jejak kenangan tertinggal disini. Dermaga, laut, Pantai Chikas, rumah pohon, alunan ombak, mangrove, pasir putih. paddleboard saksi kebahagiaan kami. Semoga dapat berlibur kembali di Pulau Leebong.






Menanti senja yang tak kunjung tiba
Foto bersama Black (kaos kuning) pemandu kami di Leebong
Pesona Leebong yang tak terlupakan
#Tripbelitung
#Indonesiapunyacerita
#Detiktravel
#WonderfulIndonesia






Minggu, 04 Agustus 2019

CAPPADOCIA, BEBATUAN UNIK DAN BALON NAN INDAH


                                                       

Sore itu Anadolu Jet mendarat mulus di bandara Nevsehir Cappadocia Airport di kota Gulsehir setelah lebih kurang 1 jam penerbangan dari Sabiha Gokcen International Airport, Istanbul, Turki. Dari jendela pesawat cuaca masih terang dan cerah. Suami bangkit menurunkan bagasi kabin. Satu persatu penumpang turun dengan tangga manual menuju ruang tunggu bagasi. Keluar pesawat baru terasa udara dingin dan menusuk tulang. Saat itu suhu 6 derajat sangat dingin bagi saya yang tinggal di daerah tropis, walaupun sudah mengenakan pakaian musim dingin.

Bandara Nevsehir kecil dan sederhana, tidak ada garbarata, tidak bersih dan tidak kotor. Kami menunggu di ruang yang tidak begitu luas. Setelah semua bagasi lengkap, kami bergerak keluar bandara menuju bis yang telah disiapkan. Bis melaju perlahan meninggalkan bandara menuju Urgup, kota kecil yang merupakan tujuan pertama wisata kami sebelum ke Goreme. Goreme merupakan tempat wisata terpopuler Cappadocia selain Ihlara Valley, Selime, Guzelyurt, Uchisar, Avanos dan Zelve. Daerah-daerah ini merupakan tempat wisata dengan ciri geologi, budaya unik dan sejarah. Naik Balon adalah ciri khas wisata Goreme.



Perjalanan ke Urgup mulus dan lancar, relative sepi lalu lintas kendaraan. Wilayahnya kering dan tandus dengan bukit, gunung dan lembah batu yang unik dan artistik. Menurut sejarahnya, formasi bebatuan ini terbentuk jutaan tahun lalu akibat erupsi gunung-gunung berapi yang terus menerus. Banjir, hujan serta angin kencang mengikis permukaannya selama ribuan tahun sehingga menghasilkan lapisan lapisan batu yang aneh dan unik berupa cerobong peri atau “fairy chimney”.




Jelang senja kami tiba di Fairy Chimney, saling berebut  foto mengabadikan keunikannya. Batu-batu besar, tinggi menghujam langit, berbentuk cerobong, jamur, kerucut dan bentuk-bantuk lainnya yang tidak lazim sungguh pemandangan yang begitu surreal menjadi latar belakang yang sangat menarik. Hari mulai gelap, lampu-lampu sudah nyala, kami pun bergegas kembali ke bus melanjutkan perjalanan ke hotel tempat kami akan bermalam.




Yunak Evleri Cave Hotel

Lampu lampu telah menyala ketika kami tiba di Yunak Evleri Cave Hotel. Hotel unik dramatik dalam gua batu. Membumbung diketinggian seperti sebuah amphitheater. Terdapat 2 buah pasad batu ukir di depan lobby kecil dengan furniture antik. Sebagian kami duduk di luar atau di ruang sebelah. Udara malam makin dingin, jari jari saya terasa nyeri. Setelah menerima kunci, saya dan suami segera ke kamar di lantai 2 dengan banyak anak tangga dan pegangan besi yang cukup melelahkan. Kami melewati gerbang batu dengan pintu kayu besar kokoh ala benteng di film Spartan. Ada teras pribadi dengan kursi tamu tua dan sebuah pot bunga. Dari teras panorama malam Urgup sangat cantik disinari cahaya lampu, bulan dan bintang.





Kamarnya cukup luas dengan plafond rendah. Nyaman dan bersih. Ada ranjang tua ukir ukuran dobel, 2 buah lampu antik dikiri kanan ranjang, sebuah meja kerja lengkap dengan kursi dan lampu, pemanas ruang, lemari kayu 3 pintu dengan hanger dan laci,  sebuah buffet berlaci banyak depan ranjang tempat meletakkan minuman, makanan dan perlengkapan lain. Dekat dinding kamar mandi ada 3 buah lilin besar yang biasa digunakan orang zaman dulu untuk penerangan. Saya merasa tinggal di zaman flinstone , dalam gua batu dengan penerangan alami walaupun listrik tetap disediakan. Di sudut kamar terdapat kamar mandi dengan wastafel vintage berlantai marmar dengan sedikit sentuhan modern. Ada air hangat dan dingin, perlengkapan mandi tertata rapi dipojok ruang.



Selesai mandi kami dinner di resto hotel dengan menu khas Cappadocia. Saya hanya makan keju dan telur, menu lain terasa aneh di lidah. Di luar udara makin dingin,. Saya kembali ke kamar, beristirahat. tertidur pulas.




Naik Balon    

Sebelum wake up morning call berbunyi saya dan suami sudah bangun, berkemas untuk persiapan naik balon udara, Yeayyy… balon udara !! wisata wajib yang tak boleh dilewatkan. Banyak cerita menarik dan pemandangan cantik tentang balon udara Cappadocia. Saya berdoa semoga cuaca cerah, balon dapat mengudara. Suami tidak ikut, trauma kedinginan saat di salju. Jari jemarinyanya nyeri dan beku. Doi tak bisa membayangkan jika berada di atas, di ruang terbuka, ambooiiii manatahan dinginnya..hahaha…berbeda dengan saya yang over semangat dan memang tujuan utama ke sini untuk naik balon. Saya mengabaikan kekhawatiran suami, yang penting naik balon, yuhuuyyy......   

Pagi itu semua telah siap. Saya menggunakan penghangat tangan dan kaki di sepatu dan saku mantel. Suhu diperkirakan minus 1 derajat, makin ke atas makin dingin. Tiket naik balon sebesar US$ 230/orang  atau TL 1.270 setara Rp. 3.220.000 dengan kurs 14.000,- untuk 50 menit terbang. Tepat pukul 05.00 pagi 2 buah Van menjemput kami. Masing masing berisi 20 orang. Van melintas savana dan gurun Goreme, cukup jauh dari hotel. Semua penumpang pulas selama perjalanan, kecuali saya dan supir yang melek.

Saat kami tiba di lapangan luas terbuka hari masih remang-remang. 2 buah balon sudah menunggu. Balonnya sangat besar.  Setiap balon terikat dengan keranjang yang dibagi 5 ruang. Tiap ruang maksimal 4 orang untuk memudahkan gerak dan mengambil foto. Namun karena jumlah kami tanggung, jadi tiap ruang diisi 5 orang. Sesak bagi yang berbody lebar. Pilot di ruang tengah. Pilot balon juga mempunyai lisensi jam terbang. Ada sekolah khusus. Banyak perusahaan balon disini. Balon kami dari Atmosfer’s Ballons, Amerika. Harganya lebih mahal dibanding perusahaan lain, namun pertimbangan keamanan, harga bukan masalah.




Setelah persiapan selesai satu persatu kami memanjat keranjang. Agak sulit bagi lansia dan yang pakai rok J. Pilot mengajarkan posisi landing dan take off.  Saat landing tubuh menghadap ke dalam, berpegang di lubang keranjang dengan posisi seperti orang duduk (squat) Sedangkan saat landing tubuh tegak memegang pinggiran keranjang. Balon siap terbang, pilot menyalakan gas, terdapat percikan api, kami merasa was-was, ternyata itu biasa

Perlahan balon mengudara, smoooottth banget, nyaris tak berasa. Cuaca cerah, udara dingin, tak ada guncangan. Terima kasih Tuhan !!. Tidak semua mendapat keberuntungan begini. Saat cuaca tak bersahabat, wisatawan harus menunggu beberapa saat atau beberapa hari atau setelah mengudara, tetiba mendarat darurat. Hal ini dilakukan semata mata demi keselamatan karena ramalan cuaca hanya prediksi. Di lapangan cuaca bisa berubah setiap saat. Alhamdulillah kami beruntung.
Bentang alam Cappadocia, sungguh fantastis. Pemandangan dibawah terhampar sangat cantik dan sangat sangat menakjubkan, sulit dideskripsikan dengan kata kata. Batu-batuan dengan beragam bentuk yang unik, aneh, tak lazim ditimpa cahaya mentari pagi (sunrise) kian menakjubkan. Sungguh !! sangat luar biasa, wonderfull world. Tanpa terasa airmataku dan beberapa teman mengalir, bertakbir atas karunia Ilahi. Kami sangat menikmati pemandangan menakjubkan ini. Terbang diatas bukit-bukit, gunung-gunung batu bersama balon balon lain berwarna warni seperti saling mengejar, Suamiku, dirimu menyesal tidak naik balon, hiks..hiks...





Setelah 50 menit mengudara perlahan balon mendarat. Kami sudah berada jauh dari tempat take off. Mobil pick up yang tadi membawa balon terus mengikuti kemana balon mendarat.  Perlahan keranjang didaratkan di atas pick up, balon dikempiskan dilanjutkan pesta wine. Petugas darat menyiapkan meja lipat beserta gelas kaki dan 2 botol minuman anggur. Pilot mengocok anggur dan membuka tutup botolnya. Memancar air anggur layaknya pesta kemenangan Valentino Rossi. Kami bersorak, melompat dan bertepuk tangan. Pilot menuangkan sedikit anggur ke masing masing gelas untuk menghangatkan badan. Saya hanya mencicip diujang lidah, rasanya aneh. Kemudian Pilot membagikan sertifikat balon. Ohh rupanya ada sertifikat juga seperti ijazah diploma.



Setelah foto bersama kami kembali ke Van masing masing balik ke hotel untuk breakfast, check out dan melanjutkan ke lokasi wisata yang lain. Masih ada beberapa tempat yang belum dikunjungi. Datanglah ke Cappadocia, naik balon !, tidak menyesal deh!!. Salam.









#Indotraveller
#kompasnusantara
#travelling
#wisata
#liburan