tripkorean.com
Childrens
Days Korea Selatan
(Korsel) jatuh pada tanggal 5 Mei lalu. Karena hari itu hari kamis, pemerintah
memperpanjang libur hingga Jumat. Violla, putri sulungku, beserta
teman-temannya sesama exchange student at
University Ajou, Suwon, memanfaatkan libur panjang ke Busan, kota terbesar
kedua di Korsel setelah Seoul. Mereka berangkat hari Rabu pukul 17.00 selesai
kuliah terakhir. Setengah berlari mereka ke Daejeon Station, takut ketinggalan
kereta. Dari sini mereka naik kereta ekonomi, Mugunghwa. “Walau kereta ekonomi
rasanya sama seperti kereta bisnis di Indonesia” cerita Vio di line. Harga
tiket ke Busan PP 48.000 won/orang dengan durasi perjalanan 5 jam. (1won = Rp.
11,-)
Pukul 1.00 kereta tiba di Busan. Tidak memungkinkan untuk
untuk mereka check in di hotel.Violla
and the gank berencana mengaso di
stasiun, namun situasi tengah malam itu
kurang menyenangkan. Banyak homeless (tunawisma)
berada di stasiun. Ada seorang perempuan lansia marah-marah kepada mereka dalam
Bahasa Korea yang tak jelas, dan ada seorang lelaki manula yang terus mengikuti
kemanapun mereka pergi. Ketakutan dengan banyaknya homeless, Violla mengusulkan untuk mengaso di Jimjilbang.
Jimjilbang adalah pemandian air panas (sauna) khas korea yang dilengkapi kamar
besar dengan banyak bantal tanpa tempat tidur. Pengunjung dapat beristirahat
sambil tidur-tiduran di lantai jimjilbang.
“bang” dalam Bahasa Korea artinya kamar. Fasilitas yag ditawarkan jimjilbang
variatif, tergantung harga. Makin lengkap dan besar suatu jimjilbang, makin
mahal harga yang ditawarkan. Jimjilbang menjadi pilihan traveller yang ingin menginap dengan biaya murah.
Niat mengitari pinggiran stasiun untuk mencari jimjilbang
beralih. Mereka menemukan Lotteria Restaurant yang beroperasi 24 jam. Karena senandung
perut kian membahana, mereka memutuskan
mengaso di Lotte hingga waktu check in
hotel tiba. Lelaki homeless yang
sejak tadi mengikuti mereka menunggu di luar Lotte. Ada ketakutan dalam diri
Violla dan teman-temannya. Violla mensugesti diri bahwa lelaki homeless yang mengikuti mereka adalah
penjaga yang diturunkan Tuhan untuk melindungi mereka. Dengan demikian Violla
merasa tenang. Akhirnya mereka berlima sukses
melewatkan malam dengan aman di Resto Lotte.
MASJID
AL-FATAH DI BUSAN
Busan kota metropolitan kedua di Korsel dan termasuk 10
kota pelabuhan tersibuk di dunia. Busan merupakan daerah tujuan wisata. Banyak
obyek wisata menarik di Busan seperti Haeundae Beach, Taejongdae, Pasar
Jagalchi dan Beomeosa Temple, yang menjadi favorit wisatawan asing. Selain
wisata bahari, Busan juga kaya akan tradisi dan budaya seperti Solal (perayaan
masa tanam) dan Chuseok (perayaan masa panen). Violla dan teman-temannya
berencana travelling hingga akhir pekan
untuk mengunjungi obyek-obyek wisata tersebut. Salah satu obyek wisata yang tak
luput mereka kunjungi adalah Masjid Al Fatah, wisata syariah.
tripadvisor.com
Masjid Al Fatah adalah masjid kedua yang didirikan di Korsel setelah Central Mosque di distrik Itaewon,
Seoul. Masjid ini terletak di 113-13, Geumdan-ro, Geumjeong-gu, dibangun tahun 1980 atas bantuan
dana dari Menteri Keuangan Libya, Ali Fellaq dan direnovasi oleh Pemerintah Turki pada tahun 2012 agar dapat
menampung jamaah lebih banyak. Masjid Al Fatah berbentuk kotak
dengan satu kubah di tengah rooftop. Masjidnya
besar, bersih dan rapi. Di pojok luar pintu masuk terdapat rak kecil berisi buletin lembaran
tentang islam. Setiap pengunjung/jamaah bebas mengambil (free take it). Ruangan dalam masjid bersih dan nyaman. Selain
sebagai sarana ibadah, masjid Al Fatah juga digunakan untuk syiar islam.
Ada perbedaan mencolok antara masjid Al Fatah dan Central
Mosque. Di masjid Al Fatah hanya ada satu tulisan yang
mencolok di dinding berbunyi “JANGAN BERISIK” sedangkan di Central Mosque, Seoul, nyaris apa yang ada dalam
pikiran dituangkan di dinding sebagai aturan seperti : “DILARANG TERBUKA AURAT”,
“DILARANG BERISIK”. “DILARANG MENGOTORI TEMPAT INI, JIKA KAMU MENGOTORI, KAMU
BERSIHKAN SENDIRI KARENA TIDAK ADA PETUGAS KEBERSIHAN,”DILARANG BUANG SAMPAH’’,”DILARANG
MAKAN BABI”,”DILARANG MEMAKAI WEWANGIAN”, DLL, DSB. Pokoke perempuan tidak
boleh dandan, tidak boleh terlihat cantik di Central Mosque. Namun demikian,
dengan banyaknya larangan di dinding tidak serta merta menjadikan Central
Mosque bersih dan nyaman. Sebaliknya masjid Al Fatah yang hanya satu larangan,
sangat bersih dan nyaman untuk umat beribadah dan melakukan aktifitas keagaaman lainnya.
central mosque brillio.com
Pengurus Central Mosque mayoritas muslim dari Timur
Tengah, Arab, dan Afrika. Mereka terlihat kasar dan saklak. Apabila melihat
perempuan memakai rok mini, matanya melotot (entah marah atau nafsu..hehe)
padahal mayoritas perempuan Korea non muslim menyukai busana mini, ketat, stoking dan kensi, apalagi ketika
musim panas. Mereka lupa tinggal di negara mana, hehe,,,,.Pengurus masjid Al
Fatah mayoritas berasal dari Indonesia dan Malaysia. Mereka ramah, sopan dan
bersahabat. Yinting, teman Violla non muslim keturunan Cina warganegara
Malaysia, saat masuk Al Fatah mengenakan rok mini dan baju kensi. Pengurus Al
Fatah tetap ramah, menyapa dengan sopan sembari tersenyum. Yinting pun respek
dengan sikap mereka. Perlakuan seperti ini tidak akan ditemui di Central Mosque
karena mereka mewajibkan megganti dengan busana panjang yang telah disediakan.
Sikap pengurus Masjid Al Fatah memberi kesan mendalam dan
teladan tersendiri bagi masyarakat setempat sehingga tiap tahun populasi muslim di Busan terus
bertambah terutama dari kalangan generasi muda oppa ganteng banyak yang menjadi
mualaf. Pengurus Masjid Al Fatah merangkul dan membimbing jamaahnya. Saat
Violla mengunjungi masjid tersebut, beberapa mualaf sedang belajar mengaji. Bertumbuhnya populasi muslim di Busan, menginisiasi
mereka membangun sekolah islam untuk mengakomodir anak-anak mendapatkan pendidikan
islam yang baik dan benar. Dana pembangunan sekolah dibiayai dari hibah
Pemerintah Arab Saudi. Sekolah ini tidak
hanya menerima anak-anak muslim tetapi juga non muslim.
MENJADI
MUSLIM MINORITAS
Ukhuwwah
Islamiyah di Busan sangat
kuat. Masjid Al Fatah dijadikan meeting
point (titik kumpul) umat. Muslim Busan tentu merasakan bagaimana menjadi
kelompok minoritas. Saat menjadi minoritas, tuntutan Adversity Quotient (AQ) sangat sangat tinggi. Kita akan merasakan
ketergantungan yang sangat besar kepada Allah bukan kepada manusia. Jika belajar islam secara
kaffah, kita akan merasakan menjadi
minoritas itu seperti apa. Tidak baik membandingkan satu agama dengan agama
lainnya apalagi
menganggap agamanya yang paling benar. Kembalikan agama kepada keyakinan
pemeluknya.
Saat ini kita dapat melihat bagaimana muslim Indonesia sebagai kelompok mayoritas, dengan
mudahnya mengkafirkan saudaranya sendiri karena berbeda pilihan, membuat
peraturan mengatasnamakan agama untuk melanggengkan jabatan dan melindungi
kepentingannya. Kekuasaan dijadikan alat untuk menekan kelompok minoritas
dengan dalih umat mayoritas. Bahkan warung nasi yang buka siang hari saat bulan
Ramadhan dirazia, dianggap mengganggu kekhusyukan umat mayoritas berpuasa.
Bagaimana jika hal ini terjadi pada saudara kita di belahan dunia sana yang
berada pada posisi minoritas ?
Mayoritas bukan berarti sewenang-wenang. Mayoritas hanya
masalah kuantitas. Yang dibutuhkan dalam kehidupan beragama adalah kualitas.
Kualitas agama akan tampil dalam bentuk ujaran dan perilaku. Agama akan
dapat membawa manusia tersebut mencapai level tertinggi
dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi butuh
tantangan, ujian dan cobaan. Semoga kita dapat terus menjaga toleransi beragama
agar dapat memberikan dukungan bayangan kepada saudara-saudara kita diluar sana
yang berada dalam kelompok minoritas. Seorang Muslim akan benar-benar
mempraktikkan keislamannya saat dia berada pada kelompok minoritas. Salam.


