Jumat, 15 Desember 2017

Sejuknya Minoritas Muslim di Busan Korea Selatan




tripkorean.com

Childrens Days Korea Selatan (Korsel) jatuh pada tanggal 5 Mei lalu. Karena hari itu hari kamis, pemerintah memperpanjang libur hingga Jumat. Violla, putri sulungku, beserta teman-temannya sesama exchange student at University Ajou, Suwon, memanfaatkan libur panjang ke Busan, kota terbesar kedua di Korsel setelah Seoul. Mereka berangkat hari Rabu pukul 17.00 selesai kuliah terakhir. Setengah berlari mereka ke Daejeon Station, takut ketinggalan kereta. Dari sini mereka naik kereta ekonomi, Mugunghwa. “Walau kereta ekonomi rasanya sama seperti kereta bisnis di Indonesia” cerita Vio di line. Harga tiket ke Busan PP 48.000 won/orang dengan durasi perjalanan 5 jam. (1won = Rp. 11,-)

Pukul 1.00 kereta tiba di Busan. Tidak memungkinkan untuk untuk mereka check in di hotel.Violla and the gank berencana mengaso di stasiun, namun situasi tengah  malam itu kurang menyenangkan. Banyak homeless (tunawisma) berada di stasiun. Ada seorang perempuan lansia marah-marah kepada mereka dalam Bahasa Korea yang tak jelas, dan ada seorang lelaki manula yang terus mengikuti kemanapun mereka pergi. Ketakutan dengan banyaknya homeless, Violla mengusulkan untuk mengaso di Jimjilbang. Jimjilbang adalah pemandian air panas (sauna) khas korea yang dilengkapi kamar besar dengan banyak bantal tanpa tempat tidur. Pengunjung dapat beristirahat sambil tidur-tiduran di lantai  jimjilbang. “bang” dalam Bahasa Korea artinya kamar. Fasilitas yag ditawarkan jimjilbang variatif, tergantung harga. Makin lengkap dan besar suatu jimjilbang, makin mahal harga yang ditawarkan. Jimjilbang menjadi pilihan traveller yang ingin menginap dengan biaya murah.
Niat mengitari pinggiran stasiun untuk mencari jimjilbang beralih. Mereka menemukan Lotteria Restaurant yang beroperasi 24 jam. Karena senandung perut kian membahana, mereka  memutuskan mengaso di Lotte hingga waktu check in hotel tiba. Lelaki homeless yang sejak tadi mengikuti mereka menunggu di luar Lotte. Ada ketakutan dalam diri Violla dan teman-temannya. Violla mensugesti diri bahwa lelaki homeless yang mengikuti mereka adalah penjaga yang diturunkan Tuhan untuk melindungi mereka. Dengan demikian Violla merasa tenang.  Akhirnya mereka berlima sukses melewatkan malam dengan aman di Resto Lotte.

MASJID AL-FATAH DI BUSAN

Busan kota metropolitan kedua di Korsel dan termasuk 10 kota pelabuhan tersibuk di dunia. Busan merupakan daerah tujuan wisata. Banyak obyek wisata menarik di Busan seperti Haeundae Beach, Taejongdae, Pasar Jagalchi dan Beomeosa Temple, yang menjadi favorit wisatawan asing. Selain wisata bahari, Busan juga kaya akan tradisi dan budaya seperti Solal (perayaan masa tanam) dan Chuseok (perayaan masa panen). Violla dan teman-temannya berencana travelling hingga akhir pekan untuk mengunjungi obyek-obyek wisata tersebut. Salah satu obyek wisata yang tak luput mereka kunjungi adalah Masjid Al Fatah, wisata syariah.

tripadvisor.com

Masjid Al Fatah adalah masjid kedua yang didirikan di Korsel setelah Central Mosque di distrik Itaewon, Seoul. Masjid ini terletak di 113-13, Geumdan-ro, Geumjeong-gu, dibangun tahun 1980 atas bantuan dana dari Menteri Keuangan Libya, Ali Fellaq dan direnovasi oleh Pemerintah Turki pada tahun 2012 agar dapat menampung jamaah lebih banyak. Masjid Al Fatah berbentuk kotak dengan satu kubah di tengah rooftop. Masjidnya besar, bersih dan rapi. Di pojok luar pintu masuk terdapat rak kecil berisi buletin lembaran tentang islam. Setiap pengunjung/jamaah bebas mengambil (free take it). Ruangan dalam masjid bersih dan nyaman. Selain sebagai sarana ibadah, masjid Al Fatah juga digunakan untuk syiar islam.

Ada perbedaan mencolok antara masjid Al Fatah dan Central Mosque. Di masjid Al Fatah hanya ada satu tulisan yang mencolok di dinding berbunyi “JANGAN BERISIK” sedangkan di Central Mosque, Seoul, nyaris apa yang ada dalam pikiran dituangkan di dinding sebagai aturan seperti : “DILARANG TERBUKA AURAT”, “DILARANG BERISIK”. “DILARANG MENGOTORI TEMPAT INI, JIKA KAMU MENGOTORI, KAMU BERSIHKAN SENDIRI KARENA TIDAK ADA PETUGAS KEBERSIHAN,”DILARANG BUANG SAMPAH’’,”DILARANG MAKAN BABI”,”DILARANG MEMAKAI WEWANGIAN”, DLL, DSB. Pokoke perempuan tidak boleh dandan, tidak boleh terlihat cantik di Central Mosque. Namun demikian, dengan banyaknya larangan di dinding tidak serta merta menjadikan Central Mosque bersih dan nyaman. Sebaliknya masjid Al Fatah yang hanya satu larangan, sangat bersih dan nyaman untuk umat beribadah dan melakukan aktifitas keagaaman lainnya.

central mosque brillio.com

Pengurus Central Mosque mayoritas muslim dari Timur Tengah, Arab, dan Afrika. Mereka terlihat kasar dan saklak. Apabila melihat perempuan memakai rok mini, matanya melotot (entah marah atau nafsu..hehe) padahal mayoritas perempuan Korea non muslim menyukai busana mini, ketat, stoking dan kensi, apalagi ketika musim panas. Mereka lupa tinggal di negara mana, hehe,,,,.Pengurus masjid Al Fatah mayoritas berasal dari Indonesia dan Malaysia. Mereka ramah, sopan dan bersahabat. Yinting, teman Violla non muslim keturunan Cina warganegara Malaysia, saat masuk Al Fatah mengenakan rok mini dan baju kensi. Pengurus Al Fatah tetap ramah, menyapa dengan sopan sembari tersenyum. Yinting pun respek dengan sikap mereka. Perlakuan seperti ini tidak akan ditemui di Central Mosque karena mereka mewajibkan megganti dengan busana panjang yang telah disediakan.

Sikap pengurus Masjid Al Fatah memberi kesan mendalam dan teladan tersendiri bagi masyarakat setempat sehingga tiap tahun populasi muslim di Busan terus bertambah terutama dari kalangan generasi muda oppa ganteng banyak yang menjadi mualaf. Pengurus Masjid Al Fatah merangkul dan membimbing jamaahnya. Saat Violla mengunjungi masjid tersebut, beberapa mualaf sedang belajar mengaji. Bertumbuhnya populasi muslim di Busan, menginisiasi mereka membangun sekolah islam untuk mengakomodir anak-anak mendapatkan pendidikan islam yang baik dan benar. Dana pembangunan sekolah dibiayai dari hibah Pemerintah  Arab Saudi. Sekolah ini tidak hanya menerima anak-anak muslim tetapi juga non muslim.

MENJADI MUSLIM MINORITAS

Ukhuwwah Islamiyah di Busan sangat kuat. Masjid Al Fatah dijadikan meeting point (titik kumpul) umat. Muslim Busan tentu merasakan bagaimana menjadi kelompok minoritas. Saat menjadi minoritas, tuntutan Adversity Quotient (AQ) sangat sangat tinggi. Kita akan merasakan ketergantungan yang sangat besar kepada Allah bukan kepada manusia. Jika belajar islam secara kaffah, kita akan merasakan menjadi minoritas itu seperti apa. Tidak baik membandingkan satu agama dengan agama lainnya apalagi menganggap agamanya yang paling benar. Kembalikan agama kepada keyakinan pemeluknya.

Saat ini kita dapat melihat bagaimana muslim Indonesia sebagai kelompok mayoritas, dengan mudahnya mengkafirkan saudaranya sendiri karena berbeda pilihan, membuat peraturan mengatasnamakan agama untuk melanggengkan jabatan dan melindungi kepentingannya. Kekuasaan dijadikan alat untuk menekan kelompok minoritas dengan dalih umat mayoritas. Bahkan warung nasi yang buka siang hari saat bulan Ramadhan dirazia, dianggap mengganggu kekhusyukan umat mayoritas berpuasa. Bagaimana jika hal ini terjadi pada saudara kita di belahan dunia sana yang berada pada posisi minoritas ?


Mayoritas bukan berarti sewenang-wenang. Mayoritas hanya masalah kuantitas. Yang dibutuhkan dalam kehidupan beragama adalah kualitas. Kualitas agama akan tampil dalam bentuk ujaran dan perilaku. Agama akan dapat membawa manusia tersebut mencapai level tertinggi dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi butuh tantangan, ujian dan cobaan. Semoga kita dapat terus menjaga toleransi beragama agar dapat memberikan dukungan bayangan kepada saudara-saudara kita diluar sana yang berada dalam kelompok minoritas. Seorang Muslim akan benar-benar mempraktikkan keislamannya saat dia berada pada kelompok minoritas. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar