Rabu, 28 Desember 2016

Berlalu Pasca Tsunami

12 tahun yang lalu tepatnya 26 Desember 2004, bencana besar terjadi di Aceh dan sepanjang pesisirnya yang berbatasan dengan Samudra Hindia.  Gempa bumi yang berskala 9,1-9,3 SR selama 8,3 sampai 10 menit di hari Minggu pagi itu menimbulkan gelombang Tsunami yang puncaknya mencapai 30 meter (98ft) meluluhlantakkan Aceh dihampir seluruh penjuru kota, kabupaten, desa-desa yang dilalui tsunami. Ungkapan dukacita, simpati, empati tertuju pada Aceh. Seluruh mata dunia berpaling ke Aceh. Jutaan tangis dan doa berkumandang untuk Aceh hingga berbulan-bulan lamanya.

Kakakku tengah bertugas di Banda Aceh, emak ikut kakak di sana. Beliau sedang sakit. Aku mengetahui tsunami dari saudara yang tinggal di Medan. Segera kutelepon kakak, namun diluar jangkauan. Paman terbang ke Aceh untuk memastikan kondisi kakak dan emak. Tiba di Cengkareng, semua penerbangan komersial ke Aceh penuh, yang  diutamakan penerbangan untuk bantuan kemanusiaan dan medis. Dua hari terkatung-katung dibandara akhirnya paman balik ke Palembang.

Tamu Jelang Maghrib

Aku terus  menghubungi nomor ponsel kakak, istrinya ataupun anaknya, tak satupun tersambung.  Kala  itu jelang magrib, hari ketiga pasca tsunami tanggal 28 Desember 2004, suasana sepi dan syahdu, hujan gemericik mengharmoni kesyahduan itu. Aku keluar menutup pagar,  kulihat mobil para tetangga sudah parkir di car port masing-masing pertanda para suami sudah pulang namun suamiku belum tiba di rumah. Setelah menutup pagar, aku masuk melalui  pintu samping, masuk kamar untuk  shalat magrib.

Tiba-tiba suara pintu depan di ketuk. Bergegas aku ke ruang tamu dan membukanya. Seorang perempuan sepuh, bertubuh sedang, mengenakan kebaya kutu baru dan samping (baca.kain) duduk di pagar teras rumah. Aku tak mengenalnya, ada sedikit kemiripan dengan wajah emak. Suasana sunyi meningkatkan hormon hororku. Aku merinding, ada perasaan takut. Sebelum aku bertanya, si nenek memperkenalkan diri menyatakan ingin meminjam uang sebesar  Rp. 2.000.000,-- untuk biaya pengobatan.  Nenek bercerita bahwa dia mengidap kanker, butuh biaya untuk kemoterapi, dia menyibak sampingnya untuk memperlihatkan penyakitnya. Kaget dan takutku kian kuat, koq baru kenal dan berjumpa dengan gamblang  bercerita tentang penyakit serta ingin pinjam uang, sungguh keterusterangan yang langka!!!.

Aku mencoba menguasai diri agar tidak  menimbulkan ketidaknyamanan pada diri nenek. Dengan lembut kutegaskan padanya bahwa aku tidak mempunyai uang sebesar itu, harus minta ke suami  dahulu sedangkan beliau belum pulang. Kuminta nenek menunggu sebentar, aku ke kamar  mengambil uang seadanya untuk kuberikan padanya. Saat aku keluar, si nenek sudah tidak ada. Ku cari di jalan mengira-ngira arah perginya. Kutelusuri gang perumahan sebelah juga tidak terlihat sosok si nenek.

Aku panik, penasaran bercampur takut. Secara matematis bisa dihitung langkah nenek dalam kondisi itu. Andai berlaripun dia masih di dalam kompleks.  Akhirnya aku kembali ke rumah dengan perasaan menyesal, cemas,  takut bercampur satu. Aku menerka-nerka siapakah nenek tadi,  manusia, malaikat, setan atau jin??? Saat dalam kebingungan suamiku pulang. Setelah beliau mandi dan duduk santai  kuceritakan semua peristiwa magrib ini. Suami tersenyum menenangkanku “Mungkin si nenek memang sakit dan perlu uang  atau  mungkin juga dia ingin menipu seperti kebanyakan pengemis-pengemis tua yang berpura-pura susah agar dikasihani” ujar suami. Aku hanya diam, tidak mengiyakan maupun mengingkari. 

Emak Meninggal

Hari keempat pasca tsunami  ponselku berdering. Terdengar suara kakak yang berat dengan duka yang dalam, mengatakan  " alhamdulillah kami bertiga selamat, emak sudah meninggal". Telepon terputus. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Aku mencoba menghubungi kembali namun diluar jangkauan. Berita yang kuterima cukup mengagetkan walau hati kecilku menyadari kabar terburuk akan hadir dalam peristiwa ini.

Kukabarkan duka ini kepada keluarga terdekat, pengurus mesjid dan mengadakan tahlilan setiap malam hingga tiga hari ke depan. Tetangga dan kerabat bertandang ke rumah turut berbelasungkawa, menguatkanku. Aku ikhlas, sudah takdir emak menemui Sang Khalik dengan cara ini. Aku terus berusaha menghubungi kakak. Jhon, saudara yang tinggal di Medan segera ke Aceh begitu kukabarkan berita emak.

Seperti juga Paman saat di bandara Cengkareng Jakarta , bandara Polonia Medan (sekarang Kualanamu) juga penuh sesak dengan para penumpang yang akan ke Aceh. Banyak yang sudah menunggu sejak hari pertama tsunami belum jua mendapatkan penerbangan. Jhon sungguh beruntung, mendekati tengah malam dia mendapat tumpangan Hercules TNI AD yang akan mengirim bantuan makanan. Mereka berdiri berpegangan dalam Hercules atau duduk diantara bahan-bahan bantuan.

Lewat tengah malam Jhon tiba di bandara Sultan Iskandar Muda. Dalam kegelapan, dia berjalan keluar bandar. Mendekati fajar belum juga bertemu kota atau manusia. Jelang pagi  tampaklah situasi yang sesungguhnya. Aceh rata dengan tanah, semua mati, semua lenyap. Rupanya semalam yang dia injak mayat bukan tanah, dia berjalan di atas tumpukan mayat!!. Subhanallah...sungguh kengerian yang dahsyat. Menyadari kondisi ini, Jhon langsung menghubungiku, melarangku ke Aceh hingga situasi pulih.

Cerita Kakak

Di hari kelima pasca tsunami kakak menelpon kembali. Suaranya sudah tenang. Dia dan keluarga sudah kembali ke rumah, sebagian listrik sudah normal. Kakak cerita panjang kejadian tsunami, awalnya mereka tidak percaya karena rumahnya jauh dari pantai tapi setelah melihat orang berlari, segera dia membopong emak yang sedang diinfus masuk ke mobil. Mereka berempat berpacu dengan air hingga sampai di sebuah perbukitan. Rupanya pengungsi sudah banyak.

Tiga hari di pengungsian, tanpa makan dan minum, tidur beralas tanah beratap langit. Emak yang sedang sakit tidur dalam mobil, tidak membawa persediaan infus. Hari ketiga pasca tsunami, jelang magrib emak memanggil kakak, ndut, jangan tinggalkan emak ya, bisik emak ke kekak. Kakak mengiyakan "aku jagain emak". Emak diam seperti tidur, di kejauhan terdengar azan magrib. Kakak melihat kondisi emak sudah tidak memungkinkan untuk bertahan. Kakak menuntun emak mengucapkan syahadat, emak menghembuskan nafas terakhir disamping kakak. Suara kakak tercekat, sedikit terisak dan diam. Aku terharu mendengar ceritanya.
Keesokan paginya air mulai surut. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Semua jalan yang dilalui masih berair. Orang-orang masih sibuk mencari kerabat dan keluarganya yang hilang. Jangan berharap mendapat pertolongan saat itu, semua nyaris terkena tsunami. Jika ada yang menemukan mayat keluarganya, mereka mengubur sendiri dan berebut lahan kering karena sebagian tanah basah,  sebagian lagi terendam. Perebutan lahan kuburan ini menambah kesulitan baru.

Kakak yang sudah kembali ke rumah, kebingungan akan mengubur mayat emak karena ketiadaan lahan kering dan tukang gali kubur. Tidak jauh dari rumah kakak ada lahan kosong  milik salah satu warga. Melihat situasi ini, pemilik tanah tersebut mewakafkan tanah itu untuk tempat pemakaman. Beramai-ramai orang memakamkan keluarganya disana dengan menggali kubur sendiri. Beruntung kakak dibantu pak RT dan tetangga yang sudah kembali dari pengungsian.  Menggali dengan peralatan seadanya. Tanah basah dan berair memudahkan dan sekaligus menyulitkan penggalian. Mudah karena tanahnya lunak, sulit karena selalu tertutup air. Jelang sore penguburan selesai.

Kelekatan Emosi

Setelah kakak menelpon, aku terkenang peristiwa nenek jelang magrib. Peristiwa itu bertepatan dengan kepergian emak. Mungkinkah nenek adalah arwah emak yang ingin pamit? Penyakit yang diderita nenek sama dengan penyakit emak. Postur tubuh dan wajahnya banyak kemiripan. Selama ini aku yang merawat emak.  Kelekatan kami sangat kuat. Emak satu-satunya yang kumiliki sejak ayah meninggal saat aku berusia 6 bulan. Karena harus ikut suami mutasi ke Bandung, emak memilih ikut kakak ke Banda Aceh. 3 bulan di Bandung, aku tawarkan emak tinggal bersamaku. Emak setuju dan Desember mendatang, saat libur sekolah akan kujemput. Namun rencana ini tak pernah terjadi, emak pergi selamanya di bulan Desember.
Ketika suami pulang kantor kuceritakan isi telpon kakak dan kepergian emak. Suami bercerita bahwa malam itu dia juga bermimpi emak memberikan sampan padanya. Dalam hatinya berkata emak akan pergi tapi suami sengaja tidak menceritakan mimpinya karena khawatir aku gak nyaman.


Kini kusadari, kelekatan psikologis seorang ibu dan anak, walaupun terpisah ribuan mil, ikatan emosional otomatis terhubung saat salah satunya akan menghadap sang Pencipta. Memang dalam agama tidak ada pengakuan mengenai hal ini. Tapi aku yakin, banyak cara Tuhan untuk memberitahukan kepada manusia tanda-tanda kepergian orang terkasih. Aku yakin nenek adalah jelmaan emak yang ingin pamit dari hidupku dan meyakinkanku bahwa emak sangat menyayangiku hingga akhir tarikan nafasnya. Selamat jalan mak. Cinta dan doaku untukmu tak kan pernah terhenti hingga kita berjumpa kembali di haribaan Ilahi.

Artikel ini pernah dimuat di kompasiana.com tanggal 28 Desember 2015. Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/julindajacob70/kenangan-tsunami-aceh_5684 f9231a7b614f07052ed2

Selasa, 27 Desember 2016

Ini Tentang Ibu, Bukan Tentang Hari Ibu

Ibuku anak pertama dari 5 bersaudara. Aku memanggilnya Emak. Emak dilahirkan di daerah pegunungan yang jauh dari pusat kota pada masa pendudukan Jepang. Datuk (kakek) pernah bercerita, emak bayi acap digendong Dai Nippon (tentara Jepang). Karena itu emak memperkirakan lahir tahun 1940-an, ketika Jepang menjajah Indonesia. Sebetulnya datuk mencatatkan tanggal lahir anak-anaknya di dinding atas rumah (pucuk pagu), ketika pucuk pagu dibongkar, arsip datuk pun hilang.
   
Datuk anak seorang pesirah. Keluarga datuk orang berada dan terpandang di desanya, mereka dhormati penduduk setempat. Keluarga datuk memiliki sawah ladang yang luas. Selain berpendidikan, datuk juga taat beragama. Datuk imam masjid dan tempat orang bertanya. Maka tidak heran jika emak pandai mengaji, suaranya merdu dengan logat melayu. Emak lulusan Hollandsche Indische Kweekschool (HIK) alias Sekolah Guru Bantu. Emak pintar dan cantik, berperawakan sedang dengan kulit putih bersih khas perempuan desa pegunungan. Emak kembang di desanya. Banyak keterampilan wanita yang emak kuasai seperti memasak, menjahit, merenda, bordir, merajut, dan menyulam. Kelak keterampilan ini sangat berguna ketika ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. 

Ayah Berpulang ke Rahmatullah

Zaman dulu perempuan bersekolah sangat langka. Ranah perempuan hanya dapur, kasur dan sumur.Perempuan hanya dididik untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Perempuan tidak punya hak. Bahkan jodohpun disediakan orang tua. Pendidikan dan keterampilan perempuan sangat terbatas, ketergantungan pada suami menjadi sangat besar. Emak salah satu perempuan beruntung, dapat bersekolah, demikian juga 2 adik perempuannya. Namun emak tidak diperkenankan datuk melanjutkan kuliah. "Pendidikan tak penting", ujar datuk. "Mau sekolah setinggi apapun, akhirnya ke dapur juga".Emak hanya diam, patuh. Ini patron orang tua masalalu, yang menganggap kesuksesan hanya diukur dari sebuah pernikahan. 

Pada masa itu, perempuan yang sudah aqil baligh akan dicarikan jodoh oleh orang tua dengan yang sederajat. Emak akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan datuk, guru Hollandsch Inlandsche School (HIS, setingkat SD/SR), anak orang berada dari kampung sebelah. Sebetulnya emak sudah punya santingan (pacar) yang sedang sekolah pertanian di ibukota kabupaten tapi datuk tidak merestui hubungan mereka. Emak menerima perjodohan di usia relatif muda. Sementara usia emak terpaut jauh dengan ayah. Setelah menikah tahun 1958, ayah keluar dari guru dan mengikuti jejak saudara-saudaranya menjadi tentara. Emak pun hijrah ke Palembang mengikuti ayah yang ditugaskan disana. 
Ayah sering bertugas ke luar kota. Emak tetap bermukim di asrama tentara hingga memiliki rumah pribadi. Rumah kami dekat dengan pasar. Emak membeli kios dan mulai membantu mencari nafkah dengan berdagang. Satu persatu kami lahir di RS. Benteng, Palembang. RS khusus tentara dan keluarganya. Anak pertama emak perempuan lahir tahun 1960 dan meninggal di usia 3 bulan. 2 tahun kemudian kakakku lahir, demikian seterusnya. Kami lahir dengan jarak 3 tahun. Aku 4 bersaudara 3 laki-laki dan 1 perempuan. Saat usiaku 6 bulan, 13 Juli 1970 ayah meninggal dalam tugas. Hancur lebur hati emak, separuh jiwanya melayang. Lebih kurang 1 tahun emak terus-terusan pingsan siuman. Saat siuman, tengah malam emak keluar rumah berharap jumpa dengan ayah (airmataku tak terbendung saat menggoreskan ini).

Datuk, nenek dan adik laki-laki emak datang melayat, menunggui emak selama beberapa bulan untuk menguatkan. Datuk membujuk emak untuk kembali ke kampung membawa serta kami ber-4. Datuk khawatir kami terabaikan. Emak menolak, ingin bertahan di kota menunggu makam ayah, membesarkan kami. Datuk luluh, ada perasaan bersalah dalam dirinya karena telah menjodohkan emak. Emak tak pernah menyesal dengan perjodohan ini. Emak percaya 'bala, jodoh, rezeki. maut' semua sudah di atur, bukan salah datuk. Emak hanya menjalani apa yang telah digariskan Allah. Dengan berat hati datuk dan nenek kembali ke kampung sedangkan adik emak (wan) pindah sekolah ke Palembang, menjaga kami dan menemani emak berdagang. 

Hidup Menjanda
  
Sepeninggal ayah, hidup kami berjalan seperti biasa. 2 kakak ku yang cukup besar merasakan ketiadaan ayah, aku dengan kakak ke 3 tidak. Hingga saat ini aku tak merasa kehilangan ayah, aku tak mengerti. Dalam hal finansial, kami tak pernah kekurangan walaupun tidak berlebihan. Kami mempunyai 2 rumah,yang belakang disewakan, kami menempati rumah depan. Beberapa tahun kemudian rumah sewaan emak jual untuk menambah modal dan merehab rumah yang kami tempati.

Setiap bulan emak mengambil uang pensiun warakawuri di kantor kas negara. Selain itu kami mendapat bantuan sembako dari Kodam II Sriwijaya dan dari Panti Sosial Bodronoyo. Setiap 3 bulan datuk mengirim beras dan sejumlah uang. Belakangan kuketahui Pansos Bodronoyo adalah Yayasan Katolik. Selama 5 tahun membantu, pastor tak pernah mengajak/membujuk emak berpindah akidah, murni bantuan kemanusiaan. Aku masih ingat, setiap bulan pastor datang membawa susu, buah-buahan, havermuth, terigu, gula dan kebutuhan harian lainnya. Pernah sekali waktu aku diajak emak ambil pensiun. senangnya hatiku di beri uang oleh teman-teman ayah. Sejak itu emak gak pernah mengajakku ambil pensiun, malu, kata emak.

Menjalani hidup sebagai janda muda nan elok sangat berat. Setiap gerak langkah menjadi sorotan dan gunjingan. Berdandan salah tak berdandan salah. Bekerja salah, tak bekerja salah . Jika hanya di rumah, bagaimana kelangsungan hidup kami?. Hanya mengandalkan bantuan dan pensiun saja tidak cukup. Kami punya banyak kebutuhan. Kakak kakakku butuh biaya sekolah.Zaman dulu, mayoritas perempuan ibu rumah tangga. Aktivitas harian tak jauh dari menggunjing. Emak sibuk mencari nafkah, tidak peduli dengan gunjingan orang, hanya berpasrah pada Allah, pemilik semesta kemuliaan. 

Pada hal-hal kecil, yang lazim di masyarakat, emak terus menggugah kami. Setiap akan menghadiri hajatan, emak menyuruhku makan. Aku makan dengan lahap, sehingga di hajatan sudah kenyang dan makan sedikit."kalo kamu makan banyak, orang akan bergunjing nak, anak yatim gak pernah di  kasih makan enak".ujar emak. Emak sungguh trauma dengan gunjingan. Beliau menutup semua celah yang dapat menjadi bahan gunjingan. Banyak larangan yang emak terapkan padaku terutama urusan makan. Menurut emak, dari makan dapat dinilai sifat seseorang. Aku paham dan kuterapkan pada diri dan anak-anakku.

Pagi pagi emak ke pasar berbelanja, membuka warung dibantu adiknya sebelum berangkat kuliah. Emak akan pulang setelah matahari tergelincir atau pasar sudah sepi pembeli. Sehari-hari aku di pasar menemani emak, bermain di warung. Jika tidak dipasar, aku dan saudara-saudaraku diasuh wak Utari di rumah. Beliau tetangga yang sangat baik. Rumahku dan rumah wak Utari berselisih 3 rumah. Wak Utari asli Jawa, tidak punya anak, tinggal berdua suaminya yang juga tentara. Beliau menyayangi kami layaknya anak sendiri.

Wak Utari berperan besar saat tahun pertama kepergian ayah. Beliau ibu kedua bagi kami. Jiwa Emak masih labil, sering pingsan. Bersama seorang tetanggaku yang cina (aku lupa namanya), mereka mengasuh dan merawat kami dengan penuh kasih, memandikan, memberi makan dan membuatkan susu untukku. Sementara adik emak menjaga kios di pasar. Sebanyak orang menggunjing, masih banyak orang yang peduli, sayang dan perhatian pada kami. Allah sungguh adil. Disatu sisi, Dia menghadirkan gunjingan agar emak senantiasa menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan tercela. Di sisi lain, Allah mnghadirkan kasih sayang melalui orang-orang yang punya empati luar biasa.

Mandiri, Cerdas dan Bermartabat

Emak sangat mandiri, tidak mau dibantu siapapun  kecuali keluarganya. Berusaha menyelesaikan permasalahan sendiri. Emak berpesan padaku "jangan memberi kesempatan orang lain menanam budi nak, sulit kita menebusnya, budi dibawa sampai mati". Kemandirian emak sebetulnya menjaga martabat kami. Ketika kami berhasil tak satupun yang bisa mengklaim ada campur tangan orang lain. Kemandirian ini melekat kuat dalam diriku.

Di waktu senggang, emak membuat taplak meja, sarung bantal kursi atau pernak pernik rumah tangga dari bahan kain blacu yang disulam tempel. Kain blacu adalah kain dasar dari kain mori yang masih berwarna asli/murni (belum mengalami pewarnaan atau pemutihan). Kain blacu bersifat fleksibel sehingga bisa dibentuk dengan berbagai macam model. Emak melukis bunga, ranting, batang pohon, putik,  pada kertas roti yang dialas karbon dan kain warna warni. Kain bergambar tersebut digunting dan ditempel pada kain blacu kemudian dijahit sehingga membentuk rangkaian bunga atau pohon. Emak membuat beberapa set untuk  dijual secara cash atau cicilan. Di lain waktu emak merajut taplak meja, tas, topi atau syal. Usaha ini tidak ditekuni, tergantung pesanan saja, hanya untuk penghasilan tambahan. Emak tidak cukup waktu untuk menekuninya.

Kepandaian emak memasak pun berguna. Terkadang emak diminta menjadi panggung. Panggung adalah orang yang mengkoordinir ibu-ibu memasak untuk hajatan. Panggung harus mampu menentukan jumlah masakan yang akan dibuat sesuai jumlah undangan. Sehingga tidak kekurangan atau berlebihan. Jenis dan ragam masakan disesuaikan dengan keinginan sohibul hajat. Dulu belum ada katering. Setiap hajatan atau perayaaan pernikahan, di masak bersama-sama dibawah koordinasi seorang panggung. Aku senang jika emak menjadi panggung. Selesai hajatan emak akan mendapat uang dan dibawakan makanan hajatan. Aku doyan makan, masakan emak enak semua. So, tidak heran jika bodyku diatas ukuran anak-anak kebanyakan hehe....

Untuk kebaya dan pakaian sehari-hari emak menjahit sendiri. Tapi aku belum pernah dibuatkan emak. Pakaianku selalu beli atau dibelikan saudara. Pernah kusarankan emak untuk menerima jahitan saja di rumah jadi tidak perlu pagi-pagi ke pasar. Emak tak berminat, jiwa dagangnya lebih kuat daripada sekedar duduk dibelakang mesin jahit.

Konservatif Kejawen

Teman-teman emak banyak etnis Jawa. Pengaruhnya sangat kuat.  Emak berpesan "bergaul lah dengan orang Jawa, ilmu dan budaya Jawa lebih tinggi, kamu bisa belajar banyak dari mereka". Kuamati emak memang berbeda. Kecenderungan masyarakat Sumatera yang bicara dengan nada tinggi, emak bertutur lembut laksana tutur jawa. Emak juga tak pernah marah, sangat sangat sabar. Tak pernah obral kesulitan dan kesedihan. Istilah jawa "nrimo". Semua masalah diselesaikan dalam diam dengan penuh hikmah kebijaksanaan.

Emak taat beribadah. Ibadah wajib dan sunnah tak pernah ditinggalkan kecual uzur. Aku kerap terbangun tengah malam mendapati emak tahajud, bermunajat dengan berurai airmata, berkeluh kesah dengan Sang Pencipta, memohon kekuatan dalam menjalani kehidupan dan mendoakan kami. Pilu mendengarnya, aku pun ikut menangis walau tak mengerti apa yang kutangisi. 

Emak juga konservatif, percaya mitos. Dampak bergaul dengan teman Jawa, Islam emak paduan kejawen. Tiap malam jumát kliwon ba'da magrib emak membakar kemenyan dan menyiapkan sesajen. Entah mantra apa yang dibaca, aku tak tertarik. Emak percaya mitos arwah ayah datang tiap malam jumät kliwon sehingga emak menyiapkan sesajen untuk ayah makan. Selain puasa senin kamis, emak juga puasa mutih. Puasa mutih adalah berpuasa atau berpantang makan dan minum apa saja kecuali nasi putih dan air putih untuk menunaikan suatu hajat.

Jelang tidur malam emak akan melelapkanku dengan dongeng dan nyanyian. Si pahit lidah, Si Nam-Nam, Asal Usul Dusun Batuaji adalah dongeng yang kusuka sehingga berulang emak bercerita. Sesekali emak bercerita tentang ayah. Cerita tentang ayah selalu berakhir dengan tangis. Aku merasakan kesedihan emak. Walaupun dijodohkan, emak tak meragukan cinta ayah. Ayah baik dan penyayang, "Itu sebabnya akub(panggilan untuk ayah) hidupnya singkat, karena terlalu baik", ujar Wak Utari. Emak juga bercerita masa-masa sekolah, teman-temannya, cita-citanya yang kandas. Emak bahagia saat bercerita, ini salah satu caranya meluapkan emosi. Di lain malam emak bercerita tentang pergerakan PKI yang dituturkan ayah. Ayah turut ke lubang buaya saat penarikan jenazah para jenderal dari lubang buaya. Ada kengerian dalam ceritanya.

Menikah (lagi)

Hari itu hujan es sangat lebat. Belum pernah terjadi sebelumnya. Usiaku sekira 5 tahun saat itu. Aku tak mengerti. Rumah kami ramai orang dengan makanan berlimpah. Rupanya emak menikah (lagi). Aku baru paham beberapa tahun kemudian. Emak dijodohkan oleh karib ayah yang kupanggil nenek dengan laki-laki yang tak kami kenal. Nenek adalah teman akrab ayah, bekerja di kantor pajak. Selain nenek teman akrab ayah ada wak Leon, seorang guru SD.

Aku masih ingat kejadiannya. Ketika kami akan ke pasar, bertemu dengan rombongan nenek di mulut lorong dengan membawa bahan bahan seperti mau hajatan. Kami kembali ke rumah. Aku tak mengikuti perbincangan mereka. Beberapa hari kemudian emak menikah (lagi). Sangat mendadak. Rupanya emak dijodohkan (lagi). Kakakku marah, menyobek semua pakaiannya. Wan juga marah. Tak ada yang merestui pernikahan ini. Datuk sudah meninggal, tak ada lagi tempat emak bergantung. Aku heran mengapa emak tak berani menolak dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal. Hanya berdasarkan referensi nenek yang notabene bukan keluarga sedarah.

Tahun tahun berlalu, aku menyadari, pernikahan ini membawa kekacauan dalam keluarga kami. 2 orang kakakku diambil adik emak dan di bawa ke kampung. Hubungan emak dan Wan retak. Rumah terasa sepi. Aku hanya berdua kakak. Setelah kakak bekerja di perusahaan kapal pengerukan, aku sendiri. Pasca menikah emak baru tahu, ayah tiri tidak mempunyai pekerjaan, dan tukang kawin cerai. Anaknya dari istri entah ke berapa dan orang tuanya ikut numpang di rumah kami juga keluarganya yang dari kampung. Rumah kami ramai, sampai-sampai emak harus menambah lantai atas untuk dijadikan kamar. Ada 7 laki-laki dan 2 perempuan yang menumpang di rumah untuk bersekolah. Emak mencarikan pekerjaan untuk ayah tiri di sebuah perusahaan galangan kapal, kepunyaan teman ayah. Aku tak mengerti apa yang diceritakan nenek ke emak sehingga mau menerima pinangan ayah tiri.

Dari pernikahan ini, lahirlah 4 adik tiriku, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Aku menyayangi mereka laiknya saudara sendiri. Ketika beranjak remaja, Wan mengajakku tinggal di rumahnya karena khawatir denganku. Sebulan tinggal di rumah wan, aku gak betah, kangen emak dan adik-adik. Aku kembali ke rumah emak. Sementara itu satu persatu mereka yang tinggal di rumah pergi karena sudah selesai sekolah atau menikah. Rumah hanya dihuni kami sekeluarga dan 2 kakakku kembali ke rumah. 

Dari awal kakak tidak menyukai ayah tiri. Dalam suatu masalah mereka bertengkar hebat, kakak mengusir ayah tiri dari rumah kami. Emak hanya terdiam, dilema. Kakak pun sering marah pada adik-adik, kasihan melihat mereka. Mungkin efek dari ketidaksukaan terhadap ayah tiri. Adik-adik takut semua dengan kakak. Aku pun gak berani membela takut dimarahi juga.

Bercerai
  
Sejak pertengkaran kakak dengan ayah tiri, situasi rumah menjadi tegang. Kakak memutuskan keluar dari rumah dan tinggal di rumah wan. Sebelumnya kakak ikut adik ibu yang tidak punya anak dan menjadi anak tunggal. Situasi rumah tenang kembali, tetapi Ayah tiri mulai jarang pulang. Isunya tergoda janda kaya. Emak tidak percaya hingga suatu hari ayah tiri tidak pernah pulang untuk selamanya, kabur dengan selingkuhan yang akhirnya dinikahi.

Sakit hati emak tak terperi. Ayah tiri pergi meninggalkan 4 anak yang masih kecil-kecil tanpa tunjangan nafkah. Emak tak mengetahui keberadaannya. Emak terus mencari hingga diketahui tempat tinggalnya dan mengajukan khulu. Akhirnya emak resmi menjanda setelah bertahan selama 10 tahun. Aku senang emak berpisah. Ayah tiri orangnya kasar dan kampungan. Emak pernah mengalami KDRT, ditonjok dengan cincin batu di kening hingga berdarah. Aku sangat marah dan mengusirnya dari rumah, berlari mengadu ke nenek. 

Setelah ayah tiri pergi, kakak kembali ke rumah. Emak tetap berdagang, aku membantu mengasuh adik-adik. Emak mendapatkan kembali hak pensiun janda yang sempat terhenti. Namun kondisi kami sudah jauh berbeda. Beban emak kini bertambah, membesarkan 8 anak. Ada perbedaan perlakuan yang signifikan dalam masyarakat terhadap janda yang ditinggal suami meninggal dan ditinggal hidup. Janda ditinggal meninggal banyak yang empati dan mengulurkan bantuan, sementara yang ditinggal suami cerai simpati orang kurang karena menganggap bapaknya masih ada, padahal tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu emak berpesan "apapun yang terjadi, jangan pernah bercerai dengan suami". Kutanam kuat pesan emak. Insya Allah hanya maut yang memisahkan aku dan suami, aamiin yra.
   
Hari demi hari kian terasa berat beban yang mesti ditanggung emak. Kakak ke 2 membantu meringankan dengan menjadi kernet angkot untuk memenuhi uang jajannya sendiri. Kadang dia membawakan kami oleh-oleh. Ketika kakak pertama bekerja, kami berharap dapat membantu keuangan keluarga. Ternyata harapan hampa. Kakak menikah, dan tak pernah membantu keuangan keluarga padahal masih tinggal dengan emak. Makanan pun tak mau berbagi. Yah begitulah, buah yang dihasilkan sebatang pohon tidak menjamin semuanya pasti sama manisnya.

Ketika usaha kian sulit, modal habis untuk kebutuhan sehari-hari, orang yang hutang banyak ingkar janji. Emak berniat kembali ke kampung, mencoba peruntungan baru. Emak memutuskan menjual rumah untuk melunasi hutang-hutang, sebagian untuk modal usaha dan bagia lain untuk biaya hidup dan kontrak rumah. 3 adik laki-laki yang masih kecil kecil diantar emak ke mantan suami. Sebetulnya emak gak tega, adik adik juga ga mau dan ga tahu mereka akan tinggal dengan bapaknya. Tapi karena situasi tidak memungkinkan, sedangkan bapaknya asik bersenang senang, emak harus tega. Setelah rumah dijual, hidup kami nomaden, berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Pulang Kampung

Akhirnya emak pulang ke kampung halamannya untuk berdagang. Aku tetap di Palembang dengan adik dan ayuk ipar. Adik laki-laki semua sudah ikut ayah tiri. Emak datang sebulan sekali, menafkahiku dan adik, membeli barang dagangan dan balik lagi. Saat itu di kampung sedang panen kopi. Dagangan emak lumayan lancar.

Sementara itu, aku makin tidak betah dengan sikap dan sifat ayuk ipar. Puncaknya aku kabur dari rumah dan numpang di rumah teman. Wan menyuruh nda (istrinya) mencariku dan mengajak tinggal di rumahnya. Aku tinggal di rumah wan hingga tamat SMA. Wan menanggung semua biaya hidupku. Wan manager salah satu RS pemerintah. Kakak ke 2 baru diterima bekerja di Telkom dan ditempatkan di Bandung. Saat mendapat kabar aku kabur, kakak menangis. Kami mulai rajin berkirim surat, kakak pun sering transfer uang. 
  
Emak berjualan di pekan seminggu 2 kali, selebihnya pembeli datang ke rumah. Di rumah emak juga membuka warung kecil berjualan rokok dan sembako. Emak hemat dan ulet. Hanya butuh sedikit tahun untuk bangkit kembali normal. Awal pulang kampung, emak masih numpang di rumah adiknya bekas rumah datuk. Datuk sudah lama meninggalkan kami. Kami tidak mendapat warisan datuk dan juga dari pihak ayah. Emak tak pernah komplain. Emak mengatakan "rezeki kita bukan dari warisan nak, kita harus berjuang dan berusaha untuk memperolehnya".

Usaha emak berjalan lancar.Dari keuntungan yang diperoleh emak dapat membeli tanah dan membangun rumah di kampung serta membeli beberapa bidang kebun. Sekarang emak memiliki kebun kopi dan kebun durian. Saat panen, hasil kebun lumayan. Tak sia-sia kegigihan emak mencari nafkah. Emak juga dapat membeli rumah dan sebidang tanah di Palembang. Emak bangga dengan perjuangannya. Emak mulai betah tinggal di kampung, berkumpul dengan saudara-saudara dan teman-temannya sambil berdagang dan berkebun. Emak juga menjadi guru ngaji dan ketua majelis taklim di kampungnya. 

Pernikahanku

Lepas SMA, aku hijrah ke Bengkulu, kuliah dan bekerja. Jarak Bengkulu dengan kampung emak cukup dekat, hanya 4 jam perjalanan darat, di bandingkan jarak dengan Palembang. Dalam usia relatif muda, jodohku tiba. Emak sukacita, tunai sudah kewajibannya. Aku menikah dengan pria pilihanku, seorang aparat penegak hukum. Tanpa perjodohan seperti yang emak alami. Suamiku berasal dari tatar Sunda, Trah Raden Danutatar, Bangsawan Cianjur, yang lahir dan besar di Betawi. Usia kami terpaut cukup jauh. Tapi cinta tak memandang usia. Setelah diangkat pegawai tetap di salah satu bank pemerintah, aku mengikat janji dengan suami tercinta. Sementara itu aku menunda kuliah dan akan melanjutkan kembali setelah punya momongan.

Emak sangat bahagia dengan pernikahanku. Airmata emak tak terbendung setelah ijab kabul diucapkan. Semua yang hadir turut larut dalam tangisan. Selain kebahagiaan yang luar biasa, terselip kekhawatiran dalam diri emak. Emak berdoa, apa yang telah dialaminya tidak menimpaku. Sebelum hari pernikahan emak berpesan "Dalam perjalanan hidup, akan ada banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Kita akan bertemu dengan kesulitan dan kesedihan. Jalani saja nak, itulah pertemuan hidup. Pertemuan hidup setiap orang berbeda-beda. Jangan pernah berkesah pada orang lain, telan sendiri semuanya nak, Itu akan mendewasakanmu". Kata-kata itu sangat inspiratif, kuterapkan dalam kehidupanku. 

Kebahagian emak kian lengkap dengan kehadiran 4 buah hatiku. Semua ini tak lepas dari intervensi emak yang rajin membawaku berobat agar segera memperoleh momongan. Hormonku bermasalah sehingga butuh therapy agar bisa hamil. Emak selalu hadir di hari persalinan. Menunggu, memberi kekuatan, dan motivasi. Ketika aku kesakitan saat kontraksi dan berteriak, emak berbisik "sstt, malu nak, jangan teriak-teriak, zikir aja. Ingatlah, melahirkan itu memang sakit tapi lebih sakit lagi jika tidak bisa melahirkan". Aku terdiam, tercekat, teringat kakakku yang belum punya momongan. Kata-kata emak sungguh menghujam. 

Pasca melahirkan emak merawatku dan bayiku selama 3 bulan hingga aku berkantor lagi. Emak juga menyiapkan dan mendidik seorang asisten untuk membantuku di rumah. Adikku yang di Palembang diminta emak tinggal bersamaku sembari kuliah. Kami berkumpul kembali dengan adik laki-lakiku yang kabur dari rumah ayah tiri. Emak kian sering menjenguk kami di Bengkulu.   

Pelajaran Hidup Dari Emak

"Setinggi apapun jabatanmu dikantor, kamu harus mengerti urusan dapur, Walaupun ada asisten, tentu mereka akan bertanya, masak apa nyonya?”,Emak menasehatiku. Beliau berpesan agar aku selalu taat dan patuh pada suami. Menyiapkan semua keperluan suami secara detail. Memasak sesuai selera suami. Bangun harus lebih pagi dari suami untuk menyiapkan sarapan. Saat suami bangun, makanan sudah siap, sudah  mandi dan wangi. Kamar tidur harus selalu rapi dan bersih. "Puaskan suami lewat perut dan dibawah perut",ujar emak, insya Allah suami akan betah di rumah dan tak kan berpaling".

Saat aku hamil emak berpesan, jangan membantah omongan suami supaya proses kelahiran lancar". Aku tersenyum, menganggap mitos tapi kuikuti nasehat emak. Alhamdulillah persalinanku mudah dan lancar, 4 bintangku partus normal. Masih banyak nasehat emak yang tak kuurai satu persatu. Emak juga melarang makan dengan 2 piring, berganti piring atau piring bertumpuk. Pamali kata emak, nanti beristri/bersuami 2, hahaha....lagi lagi mitos, tapi aku dan suami percaya, hiks..

Di saat urban kota ngetrend senam hamil. Emak hanya menyuruhku ngepel lantai secara tradisional dengan berjongkok dan mundur. Aku juga harus mandi dengan air dalam ember yang diciduk gayung dengan membungkuk dan menegakkan badan secara berulang. Cara-cara murah dan konvensional ini bertumpu pada gerakan panggul yang berfungsi mempermudah proses kelahiran.

Emak juga turut andil dalam proses mendidik 4 bintang. Walaupun disayang, anak-anak tidak boleh dimanjakan. Jika anak-anakku bertengkar, aku ingatkan mereka dengan pantun emak "lama-lama menanam cikur, lebih lama menanam serai. Lama-lama kita berkumpul, lebih lama kita bercerai". Pantun ini kurasakan kebenarannya. Ketika aku dan saudara sudah bekerja dan berkeluarga, kami hanya punya sedikit kesempatan berkumpul bersama.

Anak-anak kuajarkan mandiri, sopan santun dan toleransi. Anak-anak dilarang emak bermain di luar rumah, dilarang bermain di rumah tetangga. Jika terpaksa main di luar, harus diawasi, tidak boleh makan minum di rumah orang lain dan ke toilet. Mesti makan di rumah dan pulang saat berasa ingin ke toilet. Sebaliknya, teman-temannya boleh bermain di rumah, bahkan emak anjurkan, agar anak-anak terkontrol, makan dan kebersihannya terjaga. Membimbing anak butuh kesabaran luar biasa dan penerimaan secara utuh. Jangan pernah melihat kekurangan anak tetapi tonjolkan kelebihan yang anak miliki. Itu salah satu kunci mendidik anak.

Masih banyak yang belum kuceritakan. Bagiku, emak perempuan cerdas, mandiri dan tangguh. Mampu menjaga marwah kehidupan kami di masa masa sulit. Kemandirian emak melekat kuat dalam diriku. 

Hari-hari yang kulalui dengan emak penuh warna. Suka duka silih berganti hadir dalam kehidupan kami. Aku saksi sejarah perjalanan hidupnya. Banyak ilmu yang kudapatkan, dari adab sejak bangun tidur hingga tidur kembali, semua diajarkan emak. Dari urusan remeh temeh hingga urusan ranjang emak tularkan. Aku tidak perlu mengikuti kelas pra nikah. Aku juga tak butuh parenting class untuk mendidik anak-anak. Emak telah mengajarkan semuanya. Ilmunya klasik universal. Sebagian mampu kuteladani,sebagian sulit. Emak adalah universitas bagiku. Tempatku menimba ilmu kehidupan. Tiga kebahagiaan penting yang kuberikan untuk emak yaitu bekerja di bank pemerintah, menikah dengan pria terbaik dan menghadirkan 4 cucu untuknya.

Al fatiha untukmu mak, tenanglah di sisiNya. Selamat bersanding kembali dengan ayah. Aku selalu merindukanmu, mendoakanmu disetiap malam-malamku. Aku mencintaimu mak, sungguh!!.


NB.
28/12/2004 - 28/12/2016
Tulisan  pertama di blog ini kudedikasikan untuk 12 tahun kepergian emak. Emak berpulang ketika azan magrib 2 hari pasca tsunami Aceh di pengungsian. Saat itu emak dalam kondisi sakit.  Aku percaya, di alam sana emak tersenyum memandangku. Putri bungsu kesayangan ayah, itu yang selalu diucapkan emak padaku.